iklan











Sulselmengabari, Makassar- Tuberkulosis Resistan Obat (TBC RO) merupakan suatu penyakit dimana kuman M. tuberculosis sudah tidak dapat lagi dibunuh dengan salah satu atau lebih Obat Anti TBC (OAT), sehingga pengobatannya menjadi lebih sulit dan membutuhkan waktu lebih panjang. Indonesia menduduki peringkat ketiga untuk negara dengan beban Tuberkulosis (TBC) tertinggi di dunia (Laporan WHO TBC Global 2021) dengan estimasi kasus TBC sebesar 824.000 dan 93.000 kematian per tahunnya. 

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Makassar tahun 2021, jumlah pasien terkonfirmasi TBC RO pada tahun 2020 adalah 112 orang dan 74 (66%) pasien saja yang memulai pengobatan TBC RO. Pengobatan TBC RO yang cukup panjang (dapat mencapai 18 bulan) juga mempengaruhi angka keberhasilan pengobatan. Di tahun 2019 hanya 43 (31%) pasien yang menyelesaikan pengobatan dari 137 pasien yang berobat TBC RO. Ini merupakan secuil potret masih rendahnya kesadaran penderita TBC untuk berobat. Hal ini menjadi salah satu masalah besar untuk Kota Makassar, mengingat pasien TBC yang tidak diobati akan menjadi sumber penularan di masyarakat.

Perjuangan para kader TBC dalam mengedukasi pasien untuk segera memulai pengobatan dan meningkatkan semangat pasien untuk bertahan dalam menjalani pengobatan patut kita hargai. Perjuangan yang penuh suka dan duka dijalani dengan tulus keikhlasan. Hal ini pula yang dialami oleh kader TBC Kota Makassar yaitu ibu Marissa. Ibu Marissa, seorang ibu dengan 3 orang anak, tidak hanya berperan sebagai kader TBC, beliau juga adalah ketua kader Posyandu, ketua RT dan bahkan aktif terlibat dalam kegiatan keagamaan.

”Anak-anak saya sudah besar, saya sibuk dengan hal yang positif, mencari pengalaman, kalau tidak ada pengalaman sia-sialah hidup kita. Saya yang dipilih puskesmas di  kelurahan saya dan ini yang memotivasi saya bagaimana saya mau melihat Kota Makassar sehat, ada panggilan sendiri bukan hanya untuk TBC saja tapi posyandu juga ’’ Ujar Ibu Marissa.

Salah satu pengalaman berkesan Ibu Marissa selama ini adalah kisah seorang pasien TBC RO yang enggan memulai pengobatan di Kota Makassar. Setelah dilacak beberapa kali oleh kader dan Manajer Kasus (MK), Tn. M ditemukan di tempat kerjanya dalam keadaan memprihatinkan. Pasien mengeluhkan kondisi kesehatan yang memburuk serta keluhan sesak dikarenakan penyakitnya. Ibu Marissa kemudian memberikan edukasi dan motivasi bagi pasien dan keluarganya. Akhirnya, setelah pasien dan keluarga mengerti pentingnya untuk pasien segera mendapatkan pengobatannya, keluarga setuju untuk mengantar Tn. M ke RSUD Labuang Baji dengan didampingi oleh ibu Marissa dan MK (Manajer Kasus).

Di wilayahnya, saat ini Ibu Marissa dikenal sebagai kader TBC. Kemanapun Ibu Marissa pergi, beliau selalu membawa pot dahak di dalam tasnya untuk memudahkan beliau mengumpulkan dahak untuk dibawa ke puskesmas jika ada laporan di wilayah RT atau masyarakat tentang pasien dengan gejala TBC. Selain itu, beliau selalu siap untuk memberikan penyuluhan tentang TBC jika diminta dan bahkan berperan dalam Forum Musrenbangda tingkat kelurahan untuk menyuarakan tentang pentingnya meningkatkan kesadaran TBC di masyarakat.

’’Setelah jadi kader, saya lebih mengenal  TBC. Sangat beda sekali. Banyak sekali yang saya dapat setelah ikut pelatihan. Dari tidak tahu menjadi tahu. Walaupun dengan umur saya yang sudah tidak muda lagi, masih ada hal-hal yang tetap diajari oleh Pak Dewa (MK)” ujar ibu Marissa.

Perjuangan Ibu Marissa dalam mendampingi dan memberikan dukungan bagi pasien TBC untuk memulai pengobatan tidaklah mudah. Namun, ini tidak menghalangi atau menurunkan semangat Bu Marissa untuk membantu pasien. Bu Marissa bahkan membantu mengurus dokumen pasien yang tidak memiliki Kartu Jaminan Kesehatan, mengantarkan pasien menggunakan bentor, bahkan membelikan makan dan minum untuk pasien tanpa imbalan apapun.

” Kemampuan yang ada pada saya, saya berikan walaupun tidak seberapa tapi saya berikan dengan tulus. Ada keterpanggilan sebagai seorang kader, harus berbagi kasih, bukan hanya ke dalam tapi keluar dengan sesama kita. (Saya berpikir) Oh Tuhan, di luar sana masih banyak saudara-saudara saya yang membutuhkan bantuan, ini kesempatan saya bersama Pak Dewa (MK), biarpun lelah pokoknya saya bisa berbagi kasih. Itu yang dorongan dari dalam hati”  tutupnya.

Dari Ibu Marissa kita bisa belajar bahwa semua orang punya peran untuk jalan menuju eliminasi TBC 2030. Walaupun terlihat kecil di mata orang lain, tapi bagi pasien yang mendapatkan manfaat dan bisa berobat sampai sembuh, itu adalah luar biasa. Dengan adanya satu orang kader yang mau bergerak dengan tulus dalam satu kelurahan bisa memberi dampak dalam Eliminasi TBC di Kota Makassar. Satu orang berkarya, banyak orang yang dapat manfaatnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here